Yang Punya Program 3 Kartu Sakti Jimmy-Yusni, Yang ‘Nyinyir’ Timses Cellica-Aep

oleh -
Mahar Kurnia.

BaskomNews.com – Ketua Yayasan Putra Karawang, Mahar Kurnia juga angkat bicara soal 3 kartu sakti jenius produk Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad Zamakhsyari-Yusni Rinzani (Jimmy-Yusni).

Disampaikan Mahar Kurnia, perhelatan Pilkada Karawang 2020 semakin memanas, yaitu dimana para calon sedang mendekati dan berebut simpati publik, agar mendapat dukungan pada saat pencoblosan nanti. Termasuk yang lagi viral di media sosial saat ini soal prokontra 3 kartu jenius milik Jimmy-Yusni .

“Kita juga merasa lucu, yang punya program kartu sakti kan Jimmy-Yusni. Tapi banyak timses lawan yang nyinyir. Padahal tidak harus seperti itu. Tinggal adu program saja,” tutur Mahar Kurnia, saat diwawancara di kantornya usai melaksanakan kegiatan Jum’at berkah bersama anak-anak yatim piatu dan jompo.

Menurut Mahar, 3 kartu sakti Jimmy-Yusni adalah terobosan, bentuk dari upaya bagaimana UMKM, tani, nelayan khususnya guru ngaji menjadi prioritas.

“Mereka yang nyinyir itu tidak tahu formasi anggaran yang menjadi skenario untuk program tersebut. Salah satunya dewan-dewan yang memiliki aspirasi di tingkat pusat dan propinsi, baik dari PKB, Gerindra dan Hanura dalam bentuk aspirasi dewan, dalam rangka sinergi dan kepedulian. Jika Jimmy-Yusni terpilih nanti, ini kan program keren,” katanya.

Ini salah satu ‘nyinyiran’ di medsos facebook dari timses Cellica-Aep yang menanggapi program 3 kartu sakti Jimmy-Yusni.

Masih dijelaskan Mahar, anggota dewan memiliki aspirasi yang dapat disinergikan dengan kepala daerah, dibungkus dalam sebuah produk komitmen.

“Bukannya program aspirasi dewan seperti itu bagus dan patas diapresiasi. Yang banyak terjadi selama ini kan dana aspirasi banyak yang tidak sampai ke konstituen. Yang lucunya, sebelum jadi ngemis pengen menang, setelah jadi aspirasi dikasih ke orang lain yang tidak pernah ikut berjuang, kan konyol,” sindir Mahar.

Dosen fakultas swasta yang mengajar di ekonomi syariah ini kembali menanggapi positif soal 3 kartu saksi Jimmy-Yusni. Pertama, ia melihat yang ramai dan banyak ‘bereaksi kepanasan’ merupakan lawan politik yang entah kenapa mereka terlihat panik, atau iri dengan program terobosan Jimmy-Yusni.

“Soal 3 kartu sakti itu, apalagi yang sering dibahas soal kartu bantuan guru ngaji, mereka membandingkan dengan kartu ATM. Katanya kartu milik Jimmy-Yusni bisa gak digunakan ke minimarket, bahkan cenderung mem-bully, ini tidak sehat bagi politik. Karena sesuai kesepakatan dan kesepahaman bersama, para calon seharusnya adu program dan adu gagasan,” kata Mahar.

“Itu kartu produk politik, ibaratnya tali antara calon pemilih dan calon yang dijagokan. Kenapa mereka tidak meniru hal serupa atau mensosialisasikan program jagoannya, bukan malah memberikan analogi sesat yang bertujuan membendung eforia dari efek kartu sakti Jimmy-Yusni. Itu faktanya, mereka malah memberikan informasi-informasi salah tentang kartu itu, bahkan ada juga yang mengolok-olok dengan bicara ngaku santri kok maen kartu. Mereka jelas tidak dewasa dalam berpolitik,” timpal Mahar.

Timses Cellica-Aep lainnya juga membuat ‘nyinyiran’ lain soal 3 kartu sakti Jimmy-Yusni.

Kedua, sambung Mahar, mereka yang terlihat ‘nyinyir’ juga membandingkan dengan program guru ngaji yang sudah ada, dengan bersembunyi dibalik status sosialnya sebagai ustad, padahal mereka timses juga.

Menurutnya, program honor guru ngaji saat ini adalah program lanjutan dari bupati sebelumnya (program Bupati H. Ade Swara yang dilanjutkan Bupati Cellica), dan tidak ada pemutakhiran data. Bahkan sempat ramai juga soal pencairannya yang mandek di bulan puasa kemarin. Dan kekurangan penerima bantuan guru ngaji yang berjalan tidak mengamomodir semuanya.

“Sebut saja, di kami saja (Yayasan Putra Karawang), berapa banyak yang tidak tersentuh bantuan, mulai dari honor, bantuan iqra, Al-qur’an sampai matrial buat pembangunan. Sampai kami membentuk forum ustad kampung tahun 2017 lalu. Maka, justru dengan hadirnya kartu kartu sakti Jimmy-Yusni, elemen masyarakat antusias dan mendaftarkan ustad-ustad kampungnya untuk mendaftar, saya punya datanya. Begitu antusias pada program kartu ini,” terangnya.

Ketiga, oleh karenanya Mahar mengajak semua pihak untuk berkompetisi sehat soal adu program, menjadikan media sosial tetap teduh dan saling menghargai program dan produk calon dukungan masing-masing. Mahar juga berharap agar para politisi tidak hanya saat butuhnya saja datang dan membawa program, tetapi ujung-ujungnya tetap PHP (Pemberi Harapan Palsu).

“Ini terjadi trauma saat pileg, tokoh masyarakat dijanjikan aspirasi, katanya mau diumrohkan. Hal-hal kecil saja mereka ingkar janji, tidak seperti saat pencalonan. Konstituen didatangi, diminta dukungan, saat udah jadi, terimakasih saja tidak, ngundang pelantikan saja tidak, belum lagi bantuan muludan, rajaban, tak digubris, tak seperti janji manis saat pencalonan. Ada timses meninggal nengok pun tidak, ada timses sakit sudah diberi kabar, bukannya dibantu, sampi meninggal, melayat pun tidak hadir,” sindir Mahar.

Mahar berharap, masukan ini bisa lebih membuat para timses calon tidak terlalu ‘lebay’ dan menciptakan konflik ketersinggungan satu sama lain.

Ditambahkan Mahar, Yayasan Putra Karawang sendiri merupakan lembaga sosial yang akan tetap mengedepankan netralitas dalam setiap momentum politik apapun.

“Secara personal saja, kami berdiskusi dengan semua pengurus, serta simpatisan yang sudah hampir ada di setiap desa dan kecamatan, semua gerbong baik yang tergabung di Yayasan Putra Karawang dan Putra Karawang Group telah sepakat dan sepaket, kami mendukung putra Karawang maju menjadi bupati. Karena satu-satunya orang Karawang asli yang nyalon bupati ya Kang Jimmy,” tandasnya. (red)