Politik sebagai Pengejawantahan Potensi Diri

oleh -
Ayu Asmaranti.

BaskomNews.com – Tidak setiap orang suka dengan politik praktis. Terlebih bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan politik ataupun profesi sebagai politisi.

Namun berbeda halnya dengan Ayu Asmaranti. Perempuan kelahiran 1 Agustus 1988 ini mulai aktif sebagai praktisi politisi sosial sejak 2015. Bergabung dengan PDI Perjuangan Karawang, baginya politik adalah sarana bersosial ataupun berbudaya di dalam mengembangkan potensi ataupun kemampuan diri.

Baginya politik praktis tidak hanya sekedar dimaknai sebagai ‘perebutan kekuasaan’ ataupun pertarungan kelompok antar partai politik. Melainkan lebih kepada ‘pengejawantahan’ potensi diri, agar lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

“Politik adalah sosial, sosial adalah politik. Politik adalah budaya, budaya adalah politik. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya dan dari mana kita akan memulainya,” tutur Ayu Asmaranti, saat disinggung hakikat politik menurut pendapatnya.

Ayu mengaku mulai tertarik dengan dunia politik praktis sejak 2016. Yaitu dimana ia mulai banyak bersosialisasi dengan orang banyak saat bergabung dengan PDI Perjuangan Karawang. Sehingga keterlibatannya dalam politik praktis saat ini telah memperkenalkannya kepada dunia baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

“Banyak hal-hal baru yang saya temui saat bergabung dengan PDI Perjuangan. Saudara baru, pengalaman baru, aktivitas baru, hingga ilmu pengetahuan baru yang merubah pola pikir saya sebelumnya,” kata Ayu.

Disinggung apakah akan menjajal pengalaman baru dengan cara ‘nyaleg’ di 2025, warga Griya Mas Lestari Kondangjaya Karawang Timur ini mengaku akan mencobanya. Karena baginya, setiap pengalaman baru yang akan membawa ke arah perubahan diri yang lebih baik, maka semua peluang pengalaman hidup tersebut akan dilakoninya.

“Insya Allah, apapun itu peluangnya akan coba saya lakukan. Persoalan menang atau kalah itu belakangan. Yang terpenting adalah ilmu dari sebuah pengalamannya yang akan saya ambil. Karena pelajaran terbaik ya pengalaman,” tuturnya.

Menurut Ayu, memaknai politik tidak hanya cukup dengan menerjemahkan dari berbagai macam pengertian politik itu sendiri. Melainkan lebih kepada harus terlibat langsung di dalam aktivitas politik. Terlebih saat seseorang akan memaknai politik sebagai alat kekuasaan.

“Makanya saya tidak pernah sependapat dengan orang-orang yang tiba-tiba melakukan justifikasi bahwa politik adalah hal-hal yang kotor saja. Sementara orang tersebut belum pernah terlibat langsung dalam politik praktis,” tandasnya.

“Saya sendiri memaknai politik sebagai alat kekuasaan dari sisi positifnya. Bukan hanya sebagai alat perebutan kekuasaan atau kepentingan kelompok politik lainnya. Melainkan sebagai wadah untuk mengintervensi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro rakyat,” pungkasnya. (red)