Tak Bisa Bawa Pulang Sang Buah Hati karena Nunggak Biaya Rumah Sakit

oleh -

BaskomNews.com – Gianti (45), seorang ibu yang baru saja melahirkan buah hatinya di RS Fikri Medika terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk membawa pulang sang buah hati ke kediamannya di Dusun Mekar Baru RT001/RW002 Desa Cikampek Kota Kecamatan Cikampek.

Diketahui, Gianti (45) yang merupakan istri dari Endang Rahman (64) tidak dapat membawa buah hatinya pulang ke rumah, lantaran tidak diizinkan oleh pihak RS Fikri Medika karena tidak bisa membayar proses persalinan dan perawatan di RS Fikri Medika sebesar Rp 11.000.000.

“Sudah hampir satu minggu kami di sini semenjak istri saya melahirkan, kami belum bisa pulang karena belum bisa membayar pelunasan biaya melahirkan dan perawatan sebanyak Rp 11.000.000,” kata Endang Rahman (64) kepada BaskomNews.com, Minggu (11/10/2020).

Gianti (45) yang masuk ke RS Fikri Medika pada Sabtu (03/10/2020) untuk menjalani proses melahirkan operasi sesar, mendapat rujukan dari Puskesmas Cikampek. Gianti (45) juga merupakan pasien yang tanpa mempunyai jaminan kesehatan, baik BPJS atau jaminan kesehatan lainnya, tak bisa pulang karena belum bisa membayar biaya rumah sakit.

Karena keterbatasan kemampuan ekonomi alias tidak punya duit, membuat Endang bingung tak berdaya. “Pulang tak bisa karena harus membayar, sementara berada di RS biaya rawat inap akan terus bertambah,” tuturnya.

Dari informasi yang dihimpun, Endang yang hanya bekerja sebagai tukang ojek pangkalan di Cikampek, hanya memiliki penghasilan Rp 15 ribu perhari.

Tentunya dengan biaya belasan juta, sangat sulit bahkan menjadi hal yang sangat mustahil dalam waktu singkat bisa membayar biaya bersalin istrinya di RS Fikri Medika. Bahkan, kategori warga miskin pun, Endang luput dari perhatian pemerintah, terutama pemerintah tingkat desa.

Saat mengetahui hal tersebut, Ketua Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) DPC Kabupaten Karawang, Risna Sundari Purba merasa geram karena adanya perlakuan yang dinilai tidak manusiawi terhadap salah satu pasien rawat inap ibu melahirkan. Dirinya mengaku berang karena mengetahui adanya perlakuan pihak RS Fikri Medika yang dinilainya tidak manusiawi.

Menurut Risna, perlakuan tidak manusiawi tersebut yaitu selama pasien dirawat hanya dikasih makan sehari semalam hanya 1 kali. Itu pun hanya makan bubur, pasien dibiarkan dengan botol infusan habis sampai darahnya naik ke selang infusan.

“Selama lima hari di masa tambahan perawatan, pasien hanya diberikan makan satu kali di pagi saja, padahal tagihan terus berjalan. Saat kami konfirmasi kepada kasir, tagihan per tanggal (06/10/2020) itu sebanyak Rp 9 jutaan, karena pasien tidak dapat membayar biaya sehingga tidak diperbolehkan pulang dan tagihan perhari Sabtu (10/10/2020) sudah membengkak menjadi Rp 11 jutaan lebih,” tutur Risna.

Dikatakan Risna, pihak rumah sakit seharusnya tidak boleh melakukan hal ini. Sebab hal tersebut merupakan sebuah tindakan diskriminasi terhadap pasien.

“Mediasi yang kami lakukan dengan pihak rumah sakit yang diwakili oleh Case Manager tidak menemukan solusi. Setelah melakukan konfirmasi melalui telepon dengan pejabat berwenang pihaknya mengatakan, tetap harus diurus hari Senin (12/10/2020). Sementara pasien tidak dirawat dengan baik,” timpal Risna.

Masih kata Risna, setelah dirinya mencoba membawa pulang pasien, pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien dan anaknya dapat diupayakan untuk pulang pada hari Minggu (11/10/2020) sore.

“Bisa dibawa pulang itu pun tanpa kepastian, karena menunggu jawaban dari direksi rumah sakit yang hari ini mau datang,” tandasnya.(CR1)