Uang Palsu Sasar Pedagang Kecil di Purwakarta

oleh -
ilustrasi.

BaskomNews.com – Peredaran uang palsu di Kabupaten Purwakarta menyasar pedagang kecil di wilayah pelosok pada waktu tengah malam hingga dini hari. Modus tersebut terbongkar setelah polisi menangkap dua orang pengedar uang palsu.

Kepala Polisi Resor Purwakarta Ajun Komisaris Besar Indra Setiawan mendapatkan laporan peredaran uang palsu itu dari warga. “Modusnya dengan membelanjakan 13 lembar serupa uang Rp100.000 di warung,” katanya, Selasa (3/2/2020).

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 2.00. Namun, di antara pemilik warung ternyata mencurigai uang palsu yang diberikan oleh pelaku. Korban lalu melaporkannya ke kantor polisi sektor terdekat sampai akhirnya tertangkap dua pelaku berinisial M dan IA.

“Dari penangkapan itu ditemukan 172 lembar serupa uang pecahan Rp100.000 an dan 40 lembar serupa uang pecahan Rp 50.000 an,” kata Indra dalam konferensi pers di markasnya. Barang bukti tersebut diakui pelaku didapatkan dari orang lain.

Namun, kedua pelaku pengedar uang palsu itu dikenakan pasal 36 ayat 3 Undang-undang Nomor 7/2011 Tentang Mata Uang. Mereka terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 15 miliar.

Menurut penyelidikan polisi, uang palsu dari pelaku telah diedarkan ke sejumlah kecamatan di Purwakarta. Di antaranya di pusat kota, Wanayasa, Jatiluhur hingga kecamatan terjauh di Maniis.

Karena itu, Indra mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya. Terlebih, pengedar uang palsu kerap melakukan aksinya pada jam lelah kepada pedagang kecil untuk mendapatkan barang dan uang kembaliannya.

Sementara itu, Kepala Urusan Pembinaan dan Operasi Reserse Kriminal Polres Purwakarta Inspektur Satu Budi Suheri mengungkapkan, uang palsu tersebut didapatkan dari Bekasi. “Kami masih memburu pembuat uang palsu tersebut sekarang ini,” katanya.

Budi menjelaskan, cara pengedar mendapatkan uang palsu itu dengan cara membeli dengan uang asli. Kedua pengedar dan pembuat uang palsu sepakat menukarkan uang asli senilai Rp 7,5 juta menjadi uang palsu senilai Rp 40 juta.

Namun, pengedar di Purwakarta itu mengaku baru menukarkan Rp 200.000 uang asli untuk mendapatkan uang palsu senilai Rp 500.000. Setelah itu, pengedar kembali membeli uang palsu kepada pembuat, namun kedua pengedar sudah tertangkap terlebih dahulu.

Pembuat uang palsu itu mengirimkan barangnya menggunakan jasa pengiriman barang swasta. “Beli pertama secara online, satu lagi tatap muka. Dia baru menukarkan uang asli Rp 650.000 sudah dapat Rp 20 juta sekian pecahan uang palsunya,” ujar Budi. (PR)