BARATAYUDA PILKADA, Manuver Politik Mantan Adik Ipar untuk Rebut Singgasana Sang Kakak

oleh -
Opini Redaksi :

Perang Baratayuda Pilkada Karawang 2020

ADA yang menarik pikiran publik dalam kontestasi Pilkada Karawang yang akan digelar September 2020 mendatang. Bukan soal rasa optimisme calon incumbent Cellica Nurrachadiana (Ketua DPC Demokrat Karawang/Bupati Karawang) yang selalu digadang-gadang para pendukugnya akan menjadi Bupati 2 periode.

Bukan pula soal lunturnya ‘Harta Kita Adalah Kesetiaan’ yang sebelumnya diprediksi publik hanya akan bertahan selama 5 tahun Pemerintahan Karawang. Yaitu sebuah jargon koalisi Pilkada Karawang 2015 Cellica Nurrachadiana dengan H. Ahmad Zamakhsyari (Ketua DPC PKB Karawang/Wakil Bupati Karawang).

Pasalnya dari beberapa referensi pemberitaan media-media lokal, antara Cellica-Jimmy diprediksi sudah memutuskan untuk tidak lagi melakukan ‘kawin politik’. Karena masing-masing keduanya akan maju sebagai Calon Bupati di Pilkada Karawang 2020.

Atau bukan pula soal munculnya beberapa ‘Newcomer’ yang namanya sudah mengerucut sebagai kandidat dalam kontestasi Pilkada Karawang 2020.

Dari kalangan kaum adam, sebut saja beberapa nama seperti seorang pengusaha H. Aep Syaepuloh yang diusung PKS, H. Jenal Aripin (politisi Partai Demokrat), sampai pasangan Calon Independent Paslon ENAK (Endang-Asep Kuncir) yang jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan diri.

Sementara dari kaum hawa, beberapa nama yang muncul seperti Gina Fadlia Swara (Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Gerindra), Hj. Lina Sugiharti (Ketua DPC PPP Karawang yang tergabung dalam Koalisi Poros Juang PDIP, PAN, PPP, PBB dan Hanura), Sri Rahayu Agustina (Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Golkar), serta terakhir nama dr. Yesi Karya Lianti (politisi Partai Demokrat yang telah berganti baju partai menjadi anggota PDI Perjuangan).

Perang Baratayuda Politik Pilkada Karawang

Erat kaitannya denga manuver politik yang sedang dilakukan dr. Yesi Karya Lianti, yang menyedot perhatian publik Karawang hari ini adalah soal “Mantan Adik Ipar yang Mencoba Merebut Singgasana Kekuasaan Sang Kakak” di Pilkada Karawang 2020.

Dalam seminggu terakhir, perhatian publik Karawang khususnya kalangan pengamat dan pemerhati politik terfokus pada nama dr. Yesi Karya Lianti. Entah apa yang menjadi latar belakang atau alasan sebenarnya, tiba-tiba saja ‘Mantan Adik Ipar’ Cellica Nurrachadiana ini mendeklarasikan diri sebagai kandidat Pilkada Karawang 2020.

Sehingga sudah dapat dipastikan jika dr. Yesi Karya Lianti tidak akan lagi mendukung pencalonan Cellica Nurrachadiana di Pilkada Karawang 2020, seperti layaknya Pilkada Karawang 2015 lalu. Justru sebaliknya, kali ini dr. Yesi Karya Lianti akan menjadi lawan politik Cellica Nurrachadiana untuk merebut Singgasana Kekuasaan Karawang dari Sang Mantan Kakak Ipar.

Untuk membuktikan keseriusannya dalam melawan Cellica Nurrachadiana di Pilkada Karawang, beberapa langkah dan manuver politik dilakukan dr. Yesi Karya Lianti. Dari mulai ikut pendaftaran Balonbup di Penjaringan Terbuka DPC Gerindra Karawang, sampai dengan mengundurkan diri sebagai Pengurus DPW Partai Demokrat Jawa Barat dan berpindah menjadi Kader PDI Perjuangan Jawa Barat.

Tidak hanya sampai di situ, kabar teranyar menyebut jika keluarga besar Haji Karya yang dikenal sebagai Pengusaha SBPU terbesar di Karawang, Purwakarta, Subang dan Bekasi tersebut sudah berkumpul dan bersepakat untuk mendukung pencalonan dr. Yesi Karya Lianti di Pilkada Karawang.

Bahkan, sang kakak H. Yedi Undang Karyadi (mantan suami Cellica Nurrachadiana) telah ditunjuk pihak keluarga untuk menjadi Ketua Tim Pemenangan dari sang adik.

Kembali kepada persoalan ‘yang menarik perhatian publik Karawang’ saat ini, dalam beberapa postingan timses dan portal berita media lokal Karawang, beberapa netizen media sosial facebook mulai ‘engeuh’ bahwa pertarungan Cellica Nurrachadiana versus dr. Yesi Karya Lianti di Pilkada Karawang tak ubahnya seperti ‘perang sodara’. Bahkan salah seorang netizen sempat menyindir dengan komentar ‘Jeung Dulur Geus Teu Akur’ (dengan sodara sendiri sudah tidak bisa harmonis/bersatu).

Lantas, apakah perseteruan diantara Cellica Nurrachadiana dengan dr. Yesi Karya Lianti ini bisa dibilang sebagai ‘Perang Baratayuda’ Pilkada Karawang 2020?.

Tentu saja publik Karawang tidak berharap seperti itu. Karena melalui kontestasi Pilkada Karawang 2020, masyarakat Karawang berharap jika pesta demokrasi yang akan digelar nanti mampu melahirkan para pemimpin yang bisa membawa pembangunan Karawang ke arah yang lebih baik. Bukan pemimpin (Bupati dan Wakil Bupati Karawang) yang lahir atas dasar egosentris konflik personal/keluarga, atau pemimpin yang dilahirkan atas dasar hanya untuk membesarkan kelompok tertentu.

Karena seperti yang diketahui dalam kisah Mahabrata (sebuah Wiracita atau karya sastra tradisional), Perang Baratayuda merupakan perang yang dilatar belakangi atas dasar dendam dan kebencian di internal sodara dan keluarga sendiri. Yaitu kisa puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa atau Yudistira melawan sepupu mereka sendiri, yakni para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana. (Kisah selengkapnya bisa dicari di Wikipedia tentang Kisah Baratayua)

Singkat cerita, Perang Baratayuda atau perang sodara bukan merupakan perang yang didasari atas idealisme atau untuk perjuangan kesejahteraan rakyat saat itu. Melainkan perang yang dilatar belakangi oleh sikap egosentris, gengsi keluarga atas dendam yang lahir dari kekecewaan. Sehingga tidak pernah ada keuntungan untuk rakyat dari setiap Perang Batarayuda yang dikisahkan dalam Mahabrata.

Dan tentunya masyarakat Karawang tidak menginginkan pertarungan Cellica Nurrachadiana vs dr. Yesi Karya Lianti bak Perang Paratayuda. Karena pada dasarnya, politik tetap harus mengedepankan nilai-nilai luhur yang mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (kesejahteraan masyarakat luas). Meminjam kalimat Gus Dur (Almarhum KH. Abdurrahman Wahid) : “Yang Lebih Penting dari Politik Adalah Kemanusiaan”.

Terlebih, politik bukan satu-satunya cara untuk mencapai kesejahteraan rakyat melalui perebutan kekuasaan (kontestasi politik). Lebih dari itu, politik merupakan seni berkumpul untuk saling menyampaikan hak kebebasan dalam berdemokrasi.

Meminjam kalimat politisi lokal Karawang Ketua DPC PDIP Karawang, Taufik Ismail (Kang Pipik) : “Sebenarnya kita tidak hanya sedang hidup di sebuah planet yang dinamakan Bumi. Tanpa disadari kita juga sedang hidup di sebuah planet yang dinamakan Planet Politik. Yaitu sebuah planet yang terkadang saat kita berjauhan (di belakang), kita menjadi lawan satu sama lain dalam sebuah pertarungan. Namun saat berpapasan dan bertemu langsung, kita kembali menjadi kawan. Tertawa cerita bahagia dalam candaan sebagai manusia yang bersaudara”.

Apakah betul dr. Yesi Karya Lianti akan melawan Cellica Nurrachadiana di Pilkada Karawang 2020, atau hanya sekedar sandiwara poitik belaka?. Mampukah dr. Yesi Karya Lianti mendapatkan rekomendari DPP PDI Perjuangan atau rekomendasi DPP Partai Gerindra sebagai syarat pencalonan (pendaftaran) ke KPU Karawang?. Kita tunggu jasa kabar selanjutnya mengenai perkembangan politik Pilkada Karawang 2020 yang terlihat mulai memanas ini.***

Penulis :

ADE KOSASIH, SE

Pimred BaskomNews.com