“Cellica Hanya Besar dalam Bayangan, Lebih Rapuh dari Sarang Laba-laba”

oleh -
Cellica Nurrachadiana.

BaskomNews.com – Memasuki 2020, geliat Pikada Karawang makin terasa. Terutama sekali isu-isu yang beririsan dengan bakal calon petahana, baik incumbent Bupati ataupun Wakil Bupati.

Tiba-tiba muncul berita bahwa Ahmad Zamakhsary (Jimmy) dipastikan menggaet Gina Swara sebagai Cawabupnya.  Selanjutnya, rumor Cellica sudah memilih Aep Syaepuloh untuk mendampingi pencalonannya.

Berita-berita media dan obrolan warga pun berkisar tentang prediksi koalisi partai dan figur-figur peminat kursi Bupati, sehingga disengaja ataupun tidak, gejala tersebut telah menggerus/ menyingkirkan nalar sehat publik dalam mengkritisi produk-produk kebijakan dan realisasi capaian visi-misi pemerintahan Cellica-Jimmy.

Yang cukup menarik bahkan menggelitik isi kepala kita adalah prediksi dan klaim kemenangan Celiica. Dari sudut pandang agama, statement tersebut bisa dikategorikan takabur atau udzub. Tapi biarkan saja, karena Pilkada adalah perhelatan politik yang penuh siasat.

Penulis menganggap pengakuan sejenis itu sangat biasa dilakukan oleh bakal calon incumbent dan loyalisnya sebagai metode psywar (perang psikologis) untuk menjatuhkan ketahanan mental calon penantang ataupun jurus propaganda dalam menyihir publik.

Intinya, berita ‘hiperbola” kemenangan Cellica sebelum bertanding merupakan strategi politis dalam mencekoki pikiran warga Karawang, agar berhalusinasi tentang hasil Pilkada Karawang di bulan September nanti.

Mengapa kami (KBC) menganggap statemen tersebut sebagai halusinasi?

Mari terlebih dahulu netralisir pikiran keberpihakan kita. Rasionalisasi di bawah ini merupakan hasil pengamatan dan dinamika yang berkembang serta diskusi panjang pada internal kami.

  1. Cellica menawarkan posisi cawabup ke banyak orang. Gaya seperti ini menjadi pertanda bahwa Cellica masih gamang dan tidak yakin terhadap keunggulan dirinya sendiri, sehingga dia membutuhkan pasangan yang dianggap mampu menutupi kelemahannya, terutama sekali untuk mensupport kekuatan jejaring sosial dan kebutuhan logistik/amunisi.
  2. Keunggulan survei Cellica sangatlah tidak aman untuk seorang calon incumbent.

(a) Buka kembali ingatan kita tentang Pilpres 2019. Betapa Tim Jokowi masih gusar dengan angka kemenangan hasil survey dibawah 60%, sebab dalam perspektif lembaga survei, seorang incumbent memiliki banyak waktu dan fasilitas “terselubung” untuk mempengaruhi pikiran pemilih, sehingga calon petahana dianggap memiliki angka aman jika mencapai 70% ke atas.

Cellica sudah berkuasa selama lima tahun, dan selama itu pula Cellica bersosialisasi (berkampanye) menjajakan dirinya. Tentu jauh berbeda dengan cara menilai kita terhadap figur-figur yang muncul berkampanye dengan waktu relatif pendek.

Prediksi angka 50% Cellica yang dirilis salah satu lembaga survey sangatlah jauh dari harapan, karena angka tersebut diperkirakan stagnan, bahkan secara bertahap bakal mengalami penurunan seiring dengan massif-nya calon-calon penantang, juga record kinerjanya yang tidak terlalu memuaskan publik.

(b) Mayoritas responden pemilih Cellica berasosiasi (faktor yang muncul dalam benak) pada branding personal, semisal dianggap humbel, cantik, sopan, ramah, bijaksana, merakyat dan seterusnya. Dan sejatinya penilaian-penilaian seperti itu diarahkan pada setiap manusia, bukan hanya jadi tolak ukur dalam memilih pemimpin (bupati).

Ironis memang, mereka yang memilih Cellica hanya disebabkan mengenalnya sebagai Bupati mencapai 71%. sedangkan yang menganggap bagus kinerjanya hanya 0,3%. Belum lagi bila kita kerucutkan alasan responden memilih calon bupati, ternyata hanya 12% saja yang didasarkan pada penilaian kinerja. Sangat jomplang dan tidak rasional.

  1. Cellica kehilangan respect dan daya tarik bagi partai pengusungnya saat Pilkada 2015.

Sebagai bahan perbandingan, Karawang Budgeting Control (KBC) kembali memutar ulang dinamika Pilpres. Pada Pilpres 2014, Jokowi hanya diusung PDIP, PKB, Hanura dan Nasdem. Namun saat akan berlaga di Pilpres 2019, migrasi partai pengusungnya bertambah luar biasa.

Tercatat Golkar, PPP dan PBB pun akhirnya berlabuh di koalisi Jokowi. Artinya, bahwa selama menjalankan kekuasaan, Jokowi mampu mengkonsolidir kekuatan lama dan menarik energi dukungan baru.

Fenomena ini tidak terlihat dalam hingar-bingar Pilkada Karawang, setidaknya sampai pertengahan bulan Januari. PKB yang dulu bareng, detik ini dipastikan cerai muda karena mengusung kader internalnya. PAN yang di Pilkada 2015 mengambil start awal deklarasi dukungan ke Cellica, hari ini masih terlihat dingin dan bergerilya mencari figur alternatif.

Lalu PKS dengan gerbong pendukung militannya terlihat masih tarik ulur membuat pancingan dan syarat dukungan. Simpelnya, mereka bisa kembali mendukung Cellica, asal cawabup-nya adalah kader/rekomendasi PKS.

Demikian pula dengan PPP. Langkahnya hampir serupa dengan PAN, semaksimal mungkin mencari figur-figur baru untuk diusung dan dimenangkan.

Tentu realitas politik seperti ini menegaskan bahwa Cellica tidak juga belajar dari gaya wisdom seorang SBY yang cermat dalam mengkonsolidir/merawat para pendukungnya serta menarik minat gerbong baru, semisal PDI Perjuangan yang secara riil adalah partai penguasa secara nasional.

  1. Perkembangan terhangat yakni kemunculan orang-orang dekat Cellica yang kemudian tanpa diduga berani deklarasi berseberangan/melawan Cellica. Terlepas apapun motivasi sebenarnya, namun gejala ini diprediksi akan banyak menggerus konsentrasi dan energi Cellica, baik itu dalam hal membentengi isu yang nanti akan diekploitasi oleh orang dekat tersebut, maupun menjaga migrasi basis pemilihnya.

Empat point di atas adalah edisi pertama hasil kajian KBC mengenai rekayasa kekuatan sang Petahana. Pointer lainnya akan dikupas secara bertahap.

Kesimpulannya, bahwa Pilkada Karawang yang menurut beberapa pihak sudah bisa dipastikan pemenangnya, justru menurut kami akan berjalan lebih seru dibandingkan dengan Pilkada periode lalu.

“Alasannya karena Cellica itu hanya sosok yang kuat dalam bayangan, padahal sebenarnya Cellica lebih rapuh dari sarang laba-laba”.***

Penulis :  

Direktur KBC Endang Ayat MT