Bagaimana Cara Bersyukur? Cerita Gus Mus yang Selalu Berbincang dengan Pohon Dekat Pesantrennya

oleh -
Gus Mus saat berceramah di Peringatan Harlah NU ke 94 tahun yang digelar PCNU Karawang, Sabtu (25/1/2020).

BaskomNews.com – KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir di peringatan Harlah Nahdatul Ulama (NU) ke-94 tahun yang digelar PCNU Karawang, di Ballroom Hotel Resinda Karawang, Sabtu (25/1/2020) malam.

Dalam Mau’izhotul Hasanah yang disampaikannya, di hadapan ribuan warga NU Karawang, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang Jawa Tengah ini menyampaikan isi ceramah dengan tema ‘tasyakuran’ atau bagaimana caranya bersyukur.

“Kenapa kita tasyakuran atau harus bersyukur. Orang bersyukur, karena ia sadar mendapat anugrah nikmat dari Allah. Tapi ada hal yang kita sering lupa atau bahkan tidak pernah syukuri. Pertama, kita tidak pernah bersyukur kepada Allah yang menjadikan kita sebagai manusia. Padahal itu hak prerogatif Allah, mau Allah jadikan kita jadi binatang atau pohon,” tutur Gus Mus, saat mengawali isi ceramahnya.

Dalam hal mensyukuri karena kita diciptakan sebagai manusia oleh Allah, yang tentunya harus bisa saling menghargai dengan makhluk ciptaan Allah lainnya, Gus Mus bercerita tentang sebuah pohon di dekat pesantrennya.

Gus Mus bercerita dimana ia selalu menyapa bahkan berbincang dengan pohon tersebut. Alhasil, si pohon selalu berbuah lebat. “Apa kabar… bagaimana kabarmu?. Sehat ya… sehat ya!. Saya sering mengelus-elusnya,” tutur Gus Mus, saat bercerita tengah berbincang dengan si pohon.

Di sisi lain, Gus Mus juga bercerita tidak pernah menyapa atau berbincang dengan satu pohon lainnya yang sama. Karena secara kebetulan, pohon kedua jaraknya lebih jauh dari pesantrennya, sehingga ia jarang berpapasan dengan pohon kedua.

“Pohon kedua ini buahnya tidak sebanyak pohon pertama. Mungkin karena jarang saya sapa dan ajak bicara. Teori bersyukur ini (berbicara dengan pohon) sudah saya buktikan sendiri. Bahkan sampai terdengar sama anak saya. Anak saya jadi ikut-ikutan sering ngelus itu pohon,” tutur Gus Mus.

Ketua PCNU Karawang, KH. Ahmad Ruhyat Hasbi, saat menyampaikan sambutan.

Kedua, sambung Gus Mus, dari 7,5 miliar manusia di muka bumi, kita sering lupa bersyukur karena sudah ditakdirkan Allah menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam perkara syukur kedua ini, Gus Mus bercerita tentang kisah Abu Lahab, tetangga sekaligus paman Rasulullah SAW. Abu Lahab bin Abdul Muttalib yang setiap hari menyaksikan aktivitas nabi, namun tidak pernah ditakdirkan Allah sebagai pengikut nabi.

Bahkan sampai dengan turunnya kutukan Allah kepada Abu Lahab yang diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Lahab. Maka semenjak saat itu Sang Paman Nabi dicap sebagai pembenci islam dan Rasulullah yang luar biasa.

“Pertanyaanya, dari mana orang Karawang jadi umat nabi. Tanyakan sana sama profesor, sampai botak juga tidak akan ada jawabannya. Tapi saya akan jawab, itu hak prerogatifnya Allah. Makanya harus disyukuri,” terang Gus Mus.

“Kemudian, ciri khas orang NU juga biasanya, jangan berlebihan. Orang yang berlebihan tidak akan pernah bisa berpikir dan berlaku adil. Khususnya jangan berlebihan dalam benci. Katanya 2+2=4, karena faktor benci, katanya jadi salah. 4 itu yang betul 5-1,” terang Gus Mus, dalam analogi ceramah yang disampaikannya.

Ballroom Hotel Resinda Karawang tidak mampu menampung jamaah NU yang hadir. Sehingga sebagian jamaah terpaksa menyimak ceramah Gus Mus di depan lobi hotel melalu layar proyektor.

Lalu bagaimana seseorang bisa menjadi islam berakhlaq baik?

Gus Mus menjelaskan dua hal, yaitu menjaga ‘nilai-nilai kemanusiaan’ dan ‘mengikuti ajaran nabi. “Hak prerogatif Allah kita menjadi umat nabi. Tapi bagaimana kita mensykuri itu, dengan cara menjaga kemanusiaan kita dan mengikuti ajaran nabi,” papar Gus Mus.

Ketiga, sambung Gus Mus, yang sering lupa disyukuri adalah kita ditakdirkan oleh Allah sebagai orang islam yang NU. “Kenapa harus kita sykuri sampai usia 94 tahun ini, karena kita pengikut Rasulullah. NU itu lahir atas kebangkitan para kiyai. Dan ciri kiyai adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Karena banyak orang alim, tapi kelakuannya brengsek,” kata Gus Mus. (red)