3 Srikandi Maju di Pilkada Karawang, Suara Pemilih Perempuan Tak Bisa Diandalkan

oleh -
dr. Cellica Nurrachadiana, Gina Fadlia Swara, Hj. Lina Sugiharti (dari kiri ke kanan).

BaskomNews.com – Tiga Srikandi sudah menyatakan sikap akan maju ikut bertarung di Pilkada Karawang 2020 mendatang.

Ketiga nama perempuan tersebut semuanya berasal dari politisi. Yaitu Bupati Karawang aktif dr. Hj. Cellica Nurrachadiana (Ketua DPC Demokrat Karawang), Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Gina Fadlia Swara (politisi Partai Gerindra), serta Ketua DPC PPP Karawang, Hj. Lina Sugiharti.

Menilik dinamisasi politik Pilkada Karawang ini, pemerhati politik dan pemerintahan dari Social Policy and Political Studies (SOSPOL) menilai, jika suara perempuan sudah tidak bisa diandalkan di Pilkada Karawang 2020. Alasannya, pemilih perempuan akan menentukan pilihannya sesuai isu domestic yang dalam hal ini beberapa isu pembangunan Karawang yang terus mencuat.

Yaitu seperti isu persoalan Bank Emok (rentenir berkedok koperasi), sembako murah, pendidikan, kesehatan, serta beberapa isu pembangunan lainnya yang berkaitan langsung dengan isu keperempuanan.

“Jadi, jika bakal calon tersebut tak mendorong isu-isu yang menjadi persoalan keperempuanan, jangan harap akan menjatuhkan harapanya ke suara perempuan, kalau memang tidak pernah bisa memberikan solusi atas persoalan pembangunan yang berkaitan langsung dengan keperempuanan selama ini,” tutur Direktur SOSPOL, Muslim Hafidz, M.Si, kepada BaskomNews.com.

Kedua, sambung Muslim Hafidz, suara perempuan tidak bisa diandalkan untuk mendongkrak suara kemenangan Pilkada Karawang 2020. Alasannya, karena persentase perbedaan pemilih perempuan dengan pemilih laki-laki di Karawang hanya berkisar 2% hinga 3%.

“Berdasarkan pengalaman Pilkada Karawang sebelumnya, suara perempuan memang tidak bisa menjadi penentu kemenangan Pilkada. Karena perbedaan dengan pemilih laki-laki sangat tipis, berkisar hanya 2 hingga 3% saja,” kata Muslim Hafidz.

Ketiga, pemilih perempuan adalah mereka yang lebih banyak aktif di media sosial. Sehingga pengetahuannya tentang kondisi Karawang saat ini lebih mumpuni. Maka ditegaskan Muslim Hafidz, jika saja calon bupati perempuan tidak memahami persoalan dan solusi ke-Karawang’an yang sedang terjadi, maka sangat kecil kemungkinan untuk dipilih oleh pemilih dari kalangan perempuan.

“Keempat, karena sesama perempuan, maka jangan berharap suara perempuan akan beralih ke perempuan. Apalagi dominasi pemilih perempuan yang notabene banyak bermedsos saat ini tidak banyak menaruh pengharapan berdasarkan isu gender. Melainkan lebih kepada solusi atau visi misi pembangunan yang akan dihadirkan, khususnya visi misi yang berkaitan langsung dengan isu-isu keperempuanan,” pungkas Gus Ucim (sapaan akrab). (red)