Pengemudi Ojek Online di Majalengka Jadi Terduga Teroris

oleh -

BaskomNews.com – Dua terduga teroris di Desa Rajagaluh Kidul, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka ditaangkap Densus 88 pada waktu yang berbeda, Selasa, 19 November 2019.

Belum diketahui secara persis bagaimana keterlibatan mereka dan berafiliasi ke jaringan mana.

Mereka yang ditangkap Densus 88 adalah AI  warga Dusun Cakraningrat, RT 06/03, Desa Rajagaluh Kidul, dan Juh warga RT 06/03 , Dusun Aryakiban, Desa Rajagaluh Kidul. Al berprofesi sebagai pengemudi ojek online, Juh (30), pedagang ayam potong keliling.

Di rumah kedua terduga teroris yang bertetangga itu kini dipasangi garis polisi.

Menurut keterangan Sekretaris Desa Rajagaluh Kidul, Kecamatan Rajagaluh, Dani Agus Rianto, tersangka AI ditangkap sekitar pukul 06.00 WIB sepulang mandi dari sungai oleh sekitar 8 orang anggota kepolisian berpakaian preman. S edangkan Juh ditangkap siang sekira pukul 11.00 WIB.

Sementara, sekitar pukul 17.45 WIB, petugas tampak mendatangi rumah AI dan memasang garis polisi. Selain itu petugas melakukan pemeriksaan di dalam rumah tersebut kemudian membawa sejumlah barang. Dua orang polwan saat keluar rumah nampak menggendong dua anak balita AI.

“Dari kedua rumah keduanya petugas mengamankan  beberapa barang, namun tidak diketahui apa isinya,” kata Dani.

Saat penangkapan warga sekitar kaget ada beberapa kendaran polisi yang ditumpangi anggota kepolisian berseragam khusus dan lengkap dengan senjata laras panjang. Mereka langsung mengamankan AI serta mengambil sejumlah barang dari dalam rumah terduga teroris.

Siangnya sekira pukul 11.00, Densus 88 kembali datang ke Rajagaluh menangkap Juh yang rumahnya berbeda blok. Juh ditangkap di sekitar rumahnya dan dari rumah tersebut pihak Densus juga nampak mengamankan sejumlah barang.

Di rumah Juh hanya ada ibunya yang katanya sudah tua, sehingga ibunyapun tidak banyak berkomentar. Selain itu dia diduga tidak mengetahui apapun yang dilakukan oleh anaknya tersebut.

“Kedua terduga ini semuanya sudah berkeluarga dan memiliki anak,” ucap Dani Agus. Kata dia, warga setempat tidak pernah menduga mereka masuk jaringan teroris, dan tidaka duketahui pula apakah mereka satu kelompok atau tidak.

Sementara itu orang tua AI, Edi mengaku baru mengetahui anaknya diamankan Densus 88 dari warga sekitar, dia sendiri sedang pergi ke luar rumah. Hanya dia membenarkan anaknya selama ini bekerja sebagai pengemudi ojek online di wilayah Cirebon.

Selama ini Edi mengaku tidak pernah terlihat perubahan prilaku dari anaknya. Dia biasa menjalankan hidup keseharian normal seperti masyarakat lain pada umumnya, apalagi AI menurutnya telah memiliki dua anak usia 1,5 tahun dan 4 bulan.

“Tidak ada perubahan prilaku, dia normal-normal saja,“ katanya. Malah menurutnya AI ini sosok yang sangat familiar dan mudah bergaul. Jadi tidak ada seorangpun warga yang menduga kalau dia terlibat jaringan teroris.(PR)