Soal Pembangunan SDN Kutanagara II yang Terhenti, Toto : “Itu Tanggungjawab Saya!”

Bersama perwakilan PT Pindo Deli, Ketua DPRD Karawang meninjau langsung bangunan kelas jauh SDN Kutanagara II yang ambruk pada

“Pihak sekolah memang tidak tanggungjawab, itu mah sekolahan sejak dulu tahun 94 juga memang saya yang memotori membangun di sana”

BaskomNews.com – Terkait diberhentikannya pengerjaan pembangunan kelas jauh SDN Kutanagara II di Dusun Cidampa, Desa Kutanaga, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Ketua DPRD Karawang, H. Toto Suripto mengaku siap bertanggungjawab untuk menyelesaikan  pembangunannya.

Termasuk, Toto juga mengaku siap membayar hak para pekerja (buruh bangunan) yang masih nunggak dari pihak sekolah. Toto mengklaim, bahwa ia selalu menjadi penggerak pembangunan sekolah tersebut sejak tahun 1994. Bahkan ketika sekolah tersebut ambruk pada Kamis (1/11/2018) lalu, sampai dengan proses pembangunannya hingga kini ia mengaku yang berkontribusi.

Karena memang lokasi bangunan sekolah kelas jauh tersebut merupakan Wilayah Dapilnya dalam pencalegan sebagai wakil rakyat Karawang. “Pihak sekolah memang tidak tanggungjawab, itu mah sekolahan sejak dulu tahun 94 juga memang saya yang memotori membangun di sana. Sampai kemarin ambruk juga sampai hari ini berdiri sekolahan lagi, itu saya yang minta sana minta sini,” kata Toto Suripto, Rabu (16/1/2018).

“Alhamdulilah Pindo Delli nyumbang, Karawang Info (Grup facebook/) nyumbang, nah saya kemarin pesen kusennya. Tenaga kerjanya ya memang belum dibayar, itu tanggug jawab saya,” timpal Toto, kepada BaskomNews.com.

BACA SEBELUMNYA : Pihak Sekolah Nunggak Bayar Pekerja, Pembangunan SDN Kutanagara II Terhenti

Dikatakan Toto, di wilayah SDN Kutanagara II yang sedang diperbaiki tersebut memiliki sekitar 800 Kepala Keluarga (KK). Sehingga kebutuhan sarana pendidikan memang dibutuhkan di sana. Toto juga menjamin, bahwa pembangunannya akan segera rampung, walaupun berdiri di atas lahan milik Perhutani.

“Saya menjamin tentang berdirinya sekolah di sana itu, karena ada warga masyarakat penduduk di sana yang KK-nya mencapai 800 KK. Tentunya di sana ada putera-puteri kita yang butuh belajar, butuh sekolah. Walaupun itu kelas jauh, tetapi mereka harus tetap belajar,” timpal Toto.

Kembali disinggung soal pengakuan salah seorang wali murid SDN Kutanagara II yang menginformasikan bahwa pembanguan SDN Kutanagara II terancam distop gegara telat membayar upah pekerja, Toto menjelaskan kalau kesepakatan awal pembanguan sekolah tersebut memang akan dilakukan secara swadaya bersama warga sekitar.

“Maka saya menyampaikan kepada seluruh warga masyarakat di sana, awalnya itu mau gotongroyong kembali untuk pemasangan dan mendirikan bangunan. Tetapi karena sekarang jamannya sudah zaman now, padahal untuk kebutuhan masyarakat untuk kebutuhan anak-anaknya di sana, tetap saja masih ada yang pingin dibayar. Tapi itu tanggungjawab saya, akan saya bayar, jadi bukannya pihak sekolah nunggak,” katanya.

Selain itu, Toto juga mengaku menyayagkan peranan Pemkab Karawang dalam menyikapi persoalan ini, terutama Disdikpora yang menurutnya hanya memberikan bantuan sebanyak Rp 5 jua. “Dinas pendidikan hanya nyumbang Rp 5 juta,” bebernya.

“Jadi saya sampaikan apa adanya mengenai kondisi sekolah tersebut. Saya bersusah payah untuk bagaimana sekolah tersebut berdiri kembali, dan proses belajar mengajar itu tidak menjadi hambatan kembali. Dan kita ingin bangunannya diusahakan bisa permanen,” tandas Toto. (zay)

SHARE