Anak Bisa Trauma Sejak Dalam Kandungan Karena Perceraian Orang Tua

Foto/net.

“Anak itu dari janin pun sudah tahu orang tuanya berantem. Ada suara-suara di luar karena pertengkaran ayah ibu, anak akan mendengar”

BaskomNews.com – Tumbuh dan berkembangnya seorang anak dengan mental yang sehat tergantung pola asuh serta suasana di keluarga sejak dalam masa kandungan.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan, sejak dalam kandungan anak bisa trauma karena masalah yang terjadi pada orang tuanya. Seperti mendengar orang tuanya rebut, meskipun seorang anak masih berada dalam kandungan tetap terkena dampak.

“Anak itu dari janin pun sudah tahu orang tuanya berantem. Ada suara-suara di luar karena pertengkaran ayah ibu, anak akan mendengar,” ungkap Liza, seperti dikutip JawaPos.com.

Suara-suara tersebut dibawa masuk ke janin ke dalam molekul-molekul. Anak tersebut akan mengalami stres saat ibunya sedang mengalami stres.

“Hormon stres yang dinamakan kortisol akan naik teraktivasi, masuk ke darah, terserap ke bayinya. Anak dari janin pun ketika terjadi kekisruhan terjadi harus diajak ngobrol,” katanya.

Umumnya, trauma yang dialami anak dari perceraian orang tua biasanya bersikap murung, atau malas berpasangan saat besar, sampai akhirnya tak percaya dengan pernikahan.

“Anak-anak bisa trauma, ketika orang tua enggak ngomong sama anaknya. Anak bisa bingung mengapa orang tua berpisah. Maka ini harus disampaikan dengan cara yang tepat,” tandasnya. (red)

SHARE