Geliat Bisnis Esek-Esek di Bandung, Apartemen Bermetamorfosa jadi Tempat…

oleh -

“Biasanya setiap tamu yang nge-chat saya tak pernah menawar lagi tarif yang saya tawarkan” 

BaskomNews.com – Nyaris tak terbendung, bisnis esek-esek di Kota Bandung bagai jamur di musim hujan. Meski “kucing-kucingan” dengan aparat, namun untuk mendapatkan jasa “kepuasan sesaat” itu, sangatlah mudah. Tinggal buka gudget, masuk ke medsos, apa yang pria hidung belang cari, bisa mudah ditemukan.

Penelusuran BaskomNews.com, banyak pelaku bisnis esek-esek di Bandung, kini memanfaatkan media sosial untuk berpromosi. Dalam promosinya itu, mereka bahkan secara terang-terangan menawarkan jasa esek-eseknya, dengan memajang foto dirinya. Gilanya, tak sedikit yang dalam promosinya itu memasang foto hot, yang memancing syahwat kaum pria.

Selain mencantumkan nomor WhatsApp, mereka juga mempublish rate atau tarif kencannya. Dan setelah mendapatkan calon kliennya, mereka kemudian janjian ketemuan di tempat prakteknya, bisa di kosan ataupun apartemen. Tapi kebanyakan, para pelaku bisnis esek-esek itu lebih memilih apartemen sebagai tempat parkateknya. Mereka mengaku, di apartemen sangat aman.

“Kita sengaja sewa apartemen bareng-bareng. Kita sewa dua ruangan. Yang satu untuk tinggal, yang satu lagi buat praktek nyervis tamu,” ujar Bunga (nama samaran), saat berbincang dengan BaskomNews.com, di aparteman di kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Jumat (5/4/2018).

Bunga yang memiliki wajah cantik, kulit putih mulus dan body aduhai, mengaku dalam sehari bisa mendapatkan lelaki hidung belang antara 4 sampai 6 orang. Dengan tarif sekali kencan Rp 700 ribu, Bunga pun berbagi rupiah yang didapatnya dengan induk semangnya.

“Biasanya setiap tamu yang nge-chat saya tak pernah menawar lagi tarif yang saya tawarkan,” katanya.

Bunga dan teman-temannya memang pintar. Untuk menjerat kliennya, mereka merayunya lewat WhatsApp. Setelah si klien kesemsem, kemudian diarahkan datang ke aparteman tempatnya berpraktek.

“Kita tak langsung kasih tahu kamarnya. Klien kita janjian nunggu di lobi. Setelah ada di lobi, saya suruh dia foto, setelah itu saya jemput dia ke lobi, selanjutnya dibawa ke kamar,” ucapnya.

Lain dengan Mawar (samaran juga). Perempuan asal sebuah daerah di Jabar ini justru memanfaatkan tempat kosnya untuk berpraktek. Promonya, sama lewat medsos.

“Kosan menurut saya lebih aman dari pada hotel melati,” ujarnya, saat berbincang dengan BaskomNews.com, di kosannya, di kawasan Moh Toha, Kota Bandung. (SiD)