Dianggap “Black Campaign” kepada Kang Emil, Meme Instagram Ketua DPRD Karawang Diprotes

oleh -
Inilah upload meme Instagram Ketua DPRD Karawang, Toto Suripto yang mengundang protes.

“anda itu ketua DPRD, berkampanyelah dengan santun, bukan dengan cara menyerang kandidat lawan yg bertujuan untuk menjatuhkan”

BaskomNews.com – Dianggap telah melakukan Black Campaign atau kampanye hitam terhadap Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Kang Emil), status meme instagram Ketua DPRD Karawang Toto Suripto dengan nama akun @h_totosuripto diprotes.

Diketahui, Pada Rabu (21/3/2018), Toto Suripto yang merupakan politisi PDI Perjuangan ini meng-upload sebuah gambar meme sindiran terhadap Kang Emil, mengenai kondisi banjir di salah satu daerah di Bandung yang beberapa hari ini cukup ramai diberitakan media masa.

Dalam upload meme sindiran terhadap Kang Emil ini, Toto memang tidak membuat status instagram yang begitu panjang kalimatnya. Toto hanya menulis status : “Tuh karyanya”. Kemudian, status dan upload gambar meme oleh Toto Suripto ini memang hanya mendapatkan “10 like” dari warga netizen instagram.

Namun salah seorang warga instagram dengan akun @boni_putrabowo langsung menge-tag akun instagram Kang Emil dengan akun @ridwankami. Salah seorang warga instagram lainnya dengan akun @riswandi.menel sepertinya tidak senang dengan status dan meme instagram Toto Suripto tersebut.

Sehingga yang bersangkutan berkomentar sebagai berikut :

Inilah komentar protes pada akun Instagram Toto Suripto.

“anda itu ketua DPRD, berkampanyelah dengan santun, bukan dengan cara menyerang kandidat lawan yg bertujuan untuk menjatuhkan. saran saya, lebih mengkampanyekan program2 kandidat yang anda dukung. Sudah saatnya kita memiliki kedewasaan dalam berdemokrasi. Jawa Barat butuh politik yg berkualitas dengan tetap menjaga nilai2 kerukunan”, tulis @riswandi.menel dalam komentarnya.

Pada kesempatan berbeda, Mahasiswa Universitas Nasional Fascia Sarjana Jurusan Ilmu Politik, Deki Transpale juga menyikapi status meme Toto Suripto ini. Dikatakan Deki, banyak hal yang dilakukan oleh masing-masing tim kontestan agar bisa duduk di singgasana dataran sunda tersebut.

Mulai dari cara positif sampai dengan negatif akan ditampilkan dalam pesta demokrasi 5 tahunan ini. “Namun, dominan kelompok fanatik calon menggunakan cara negatif, agar bisa menjadi pemenang,” kata Deki, kepada BaskomNews.com, Kamis (22/3/2018).

Deki yang juga lulusan S1 Fakultas Ilmu Politik UNSIKA ini menjelaskan, hal tersebut sudah bisa dilihat, dimana salah satu pendukung calon (Toto Suripto) melakukan Black Campaign (kampanye hitam-red) terhadap pasangan lainnya.

“Dimana Ketua DPRD Karawang Toto Suripto yang merupakan politisi PDI Perjuangan melakukan sindiran terhadap pasangan calon lain melalui akun pribadi jejaring sosial miliknya, dengan media gambar bercerita,” paparnya.

Menurut Deki, yang telah dilakukan politisi PDI Perjuangan tersebut jelas akan memberikan dua dampak pengaruh yang kuat kepada para konstituen, yaitu psikologis dan sosiologis politik. “Sebab, penggunaan metode sindiran yang tersebar kepada para kandidat dapat menimbulkan persepsi yang dianggap tidak etis, terutama dalam hal kebijakan publik,” katanya.

Ditambahkan Deki, komunikasi ini menimbulkan fenomena sikap resistensi dari para pemilih. Secara efisien prilaku yang dilakukan salah satunya disebabkan oleh kurangnya sumber daya untuk menyerang kandidat. “Yaitu dengan cara bermain pada permainan ranah emosional yang akhirnya pemilih akan meninggalkan sang kandidat,” katanya.

Oleh karenanya, Deki berharap agar demokrasi di negara Indonesia ini bisa berjalan lebih baik dan sehat pada prosesnya, harus diisi dengan muatan-muatan positif dalam setiap pelaksanaannya, bukan sebaliknya melakukan hal negatif.

“Sebab, proses demokrasi pada sebuah negara bisa dijadikan sebagai indikator negara modern, berkembang dan maju. Untuk itu saya berpesan kepada seluruh pelaku politik, khusunya yang ada di Provinsi Jawa Barat, untuk tidak melakukan hal-hal negatif dalam proses demokrasi. Aagar bisa menghasilkan sebuah referensi yang dijadikan contoh oleh daerah-daerah yang lainnya,” pungkas Deki.(pls)