Kisruh TPA Leuwisisir, Ini Kata Kadis DLHK Karawang

oleh -
Kadis LHK Karawang, Wawan Setiawan

“Saya baru 4 bulan menjabat. Saya harus banyak belajar. Di awal-awal ini saya sedang konsen soal kebersihan”

Baskomnews.com – Kembali menjadi perbincangan publik terkait rencana pengaktifan TPA Leuwisisir, Kepala DLHK Karawang, Wawan Setiawan menyatakan, jika pernyataannya di media beberapa waktu lalu hanya baru sebatas rencana.

Untuk persoalan penanganan sampah di Karawang secara keseluruhan, Wawan mengaku harus banyak belajar. Karena sebagai Kepala DLHK, dirinya baru menjabat sekitar 4 bulan. Namun Wawan sendiri mengaku sedang konsen terkait persoalan penanganan sampah ini.

“Saya baru 4 bulan menjabat. Saya harus banyak belajar. Di awal-awal ini saya sedang konsen soal kebersihan. Karena tahun kemarin Karawang terpilih sebagai kabupaten sehat dan kota layak anak. Makanya di RPJM saya fokus soal persampahan,” kata Wawan Setiawan, Kamis (16/11).

Dari 2,8 jiwa penduduk Karawang, sambung Wawan, sekitar 140 ton sampah per hari dibuang oleh masyarakat. Sementara untuk TPA Jalupang, kata Wawan, hanya mampu menampung 500 hingga 600 ton sampah per harinya.

“Sisanya harus dibuang kemana?. Inilah yang jadi argumentasi saya waktu paparan angaran di awal. Makanya di 2018 kita minta anggaran kembali terkait penanganam persampahan ini,” kata Wawan.

Ditambahkan Wawan, sebetulnya belum ada rencana untuk memfungsikan TPA Leuwisari dalam jangka waktu dekat. Adapun mengenai paparannya sewaktu rapat di Bappeda hanya merupakan pemaparan grend design DLHK dalam jangka panjang, karena melihat kondisi TPA Jalupang yang sudah tidak memungkinkan untuk menampung sampah di Karawang.

“Makanya dalam penanganan sampah ini, di sisi lain saya mencoba memanfaatkan keberadaan temen-temen tim saber sampah untuk sedikit demi sedikit merubah pola pikir massyarakat mengenai budaya hidup sehat dalam membuang sampah,” katanya.

Menurut Wawan, sebetulnya persoalan banjir tahunan di Karangligar bukan merupakan alasan untuk tidak diaktifkannya TPA Leuwisisir. Karena menurutnya persoalan tersebut bisa diatasi dengan era pembangunan saat ini semisal membuat tembok besar pembatas banjir.

“Cuma kan persoalannya sampai hari ini belum ada anggarannya. Makanya saya katakan sebetulnya ini baru rencana (pengaktifan Leuwisari) untuk antisipasi TPA Jalupang yang sudah tidak bisa menampung ssampa,” timpalnya.

Masih dikatakan Wawan, ia pribadi memiliki keinginan agar pengelolaan sampah di Karawang seperti di Mojokerto. Yaitu dimana TPA sampah berada di pemukiman warga tetapi sama sekali tidak mengganggu aktivitas warga.

“Tapi tentu saja untuk merealisasikan semua itu, saya harus bisa menyelesaikan persoalan di Jalupang dulu, baru saya akan beranjak ke Leuwisisir, supaya masyarakat percaya bahwa pengelolaan sampah ini tidak akan menimbulkan dampak negatif untuk masyarakat,” katanya.

“Saya mewajarkan jika masyarakat reaktif, makanya kita harus penuh dengan kehati-hatian dalam menjalankan program ini,” pungkasnya. (king)