“Berpelukan” Akhiri Kisruh PDAM, Askun: Mereka sedang Melakon Teletabis

oleh -

“Mereka sedang melakon Teletabis. Saya melihat, ada kejanggalan dan kebenaran yang ditutup-tutupi. Dan episode berpelukan ini merupakan upaya untuk memaksakan kehendak supaya mereka dalam tanda kutip dapat kepercayaan dari masyarakat”

BaskomNews.com – Episode “berpelukan” yang merupakan akhir dari kisruh dan gaduh di PDAM Tirta Tarum Karawang, disikapi nyeleneh oleh Tokoh Masyarakat, yang juga Advokat di Karawang, Asep Agustian, SH, MH. Pria yang akrab disapa Askun ini berseloroh, kalau itu merupakan dagelan, permainan akting dari orang-orang yang “bermain” di episode terakhir tersebut. Bahkan kata dia, para “pemain” itu sedang melakon Teletabis.

“Mereka sedang melakon Teletabis. Saya melihat, ada kejanggalan dan kebenaran yang ditutup-tutupi. Dan episode berpelukan ini merupakan upaya untuk memaksakan kehendak supaya mereka dalam tanda kutip dapat kepercayaan dari masyarakat,” ujarnya, kepada BaskomNews.com, sesaat tadi (Kamis, 19/10/2017).

Kata dia, dalam hal ini ada gelagat mengkambing hitamkan seseorang, untuk memutihkan seseorang lagi. “Dan saya kira, orang yang dikambing hitamkan itu juga masih merupakan bagian dari pemain di sinetron ‘Kisruh PDAM’. Kasihan rakyat,” lanjutnya.

Kondisi ini, tambah dia, justru malah akan menjadi blunder. Masyarakat bukannya percaya, malah semakin hilang kepercayaan. Sebab saat ini, kata dia, masyarakat sudah lebih pintar, lebih aktif dan punya mata yang selalu mempelototi segala persoalan yang ada di PDAM Tirta Tarum.

“Seperti dalam kasus terakhir, yakni sikap arogansi Plt Dirut PDAM Tirta Tarum, Yogi, yang diduga melakukan pemukulan terhadap Satpam PDAM, Koswara. Masyarakat tahu kok, dengan bukti-bukti yang beredar di media sosial, seperti screen shoot SMS Koswara, bukti ke rumah sakit dan ada saksi,” ucapnya.

Harusnya, tandas dia, kasus ini jangan ditutupi. “Buka saja. Akui saja kalau itu memang ada. Setelah itu, permintaan maaf dan mediasi. Toh kasus seperti ini juga akan selesai dengan mediasi. Jangan malah yang dikedepankan, kebohongan publiknya,” kata Askun.

Askum juga menyinggung soal gelombang aksi yang dilakukan karyawan PDAM. Aksi itu, kata dia, merupakan akumulasi dari hilangnya kepercayaan pegawai pada sosok Yogi. “Lantas pertanyaannya sekarang, kok endingnya seperti ini?” tutup Askun. (tim)